My oret2xan…

Bu Nasroh, mulanya biasa aja saya kenal dia. kemana2x sering ajak 3 anaknya yg masih still balita. Wuiiihhh…apa gak repot ya? pikirku.

Entah apa yang membuat aku tertarik…
lama kupikir, kuamati… ‘dia daiyah militan’ itu fikirku.

Donggala, salah satu kabupaten di sulteng. luas daerahnya ratusan kilo. dengan 30 DPC. medannya berat. rakyatnya menengah kebawah. ini kota tua. very old version memang. lha wong penduduknya paling keren tamat SMP.

But…ada pelajaran hebat dr beliau yg sangat sederhana.
pakaiannya sederhana, pembawaannya sederhana. tp..kerjanya luar biasa.
‘Bu…apa gak repot..? bawa anak2x gini ? pake khadimat aja bu..’
lalu dia jawab sambil tertawa, ‘ Bu….saya masih sanggup ngerjainnya sendiri, alhamdulillah…kalau dibawa enak semuanya enak kok bu…’.

Dorrr….jawabanmu enteng banget bu Nasroh. Seenteng dijalani tugas2x dakwahnya yang berat.

Tiap pekan jaulah, krn daerahnya jauh, sering bermalam dengan keluarganya. berpikir keras untuk mencari kader. membuka daerah, silaturrahmi dgn kepala desa. memasuki pedalaman donggala.
Sudah itu, sedikit pula kadernya. kader intinya aja hanya 7.
Ironisnya….
kerja dakwahnya besar, kader minim.
‘Bu…akhwat kota palu diminta turun ke donggala aja bu ?’ pintaku.
sambil senyum beliau jawab, ‘ gak ada yang mau bu…’
‘hahhhh…gak mau..? kenapa…?. beliau gak jawab.
Ya allah….jadi sedih sekali, dijakarta kader berlebihan sampai minta2x amanah aja sering gak kebagian. Sementara ini…..Ya alloh.
‘Bu…aku siap bantu ibu !’ tukasku. ’status dimana aja boleh, yang penting dimana ada kerja bolehlah kita berbagi’.
Wajahnya berbinar,’Iya bu…!’.

hhhhh….
Kenapa ya….sedikit sekali jiwa2x seperti  Bu Nasroh. yang gak punya apa2x, gak digaji, gak sempat punya bisnis sambilan lantaran urusan dakwah,wajahnya senyum terus,kerja dakwahnya kemana2x dan berat.
ah….sibuk amat aku nyari figur….’ lalu siapa aku ? sudah sampai dimana dan kemana karyaku ? ‘

dia…bekerja pada Tuhannya
tak kenal lelah dan ngeluh, apalagi nggerutu.
dia yakin gajinya dibayar tunai, gaji paling besar  dengan  Surga jannatunna’im.

hhhhh….Bu Nasroh..!
Terima kasih Ya Alloh, atas pelajaranMu ini. Give me more strenght.

April 2008

atiiiqah@yahoo.com

Kerja ato ‘jualan’

Kuliah udah hampir 4 tahun neh.. berarti ntar lagi lulus .. Amin… klo udah lulus kebanyakan orang seh pada nanya.. “kerja dmana???”.. apalagi calon ****** :D . bagi yang lom dapet kerja pasti harus punya jawaban diplomatis ada bisa menjaga ‘harga diri’ dan nama baik kampus.. he3x…

Terkait dengan kerja, Islam sangat professional mengaturnya. Bahkan ada bab tersendiri yang mengurusi etos kerja. Ini saya kutip dari blog seseorang yang berpendapat tentang etos kerja. Dia menulis bahwa ada 5 Prinsip Kerja Seorang Muslim (Etos Kerja dalam Islam) yaitu :

1. Kerja, aktifitas, ‘amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni’mat ALLAH SWT. (QS. Saba’ [34] : 13)

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ {سبأ/13}

2. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi ad-dunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Al-Baqarah [002] : 201)

وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة/201}

3. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. QS. Al-Qashash [28] : 26

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ {القصص/26}

Al-qawiyy merujuk kepada : reliability, dapat diandalkan. Juga berarti, memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional, intelektual, spiritual)

Sementara al-amiin, merujuk kepada integrity, satunya kata dengan perbuatan alias jujur, dapat memegang amanah.

4. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah; terus mencoba hingga berhasil. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a.s. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda)

5. Kerja dengan cerdas. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan; terencana; memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a.s.

Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah.

Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja; sekumpulan karakter, sikap, mentalitas kerja, maka dalam bekerja, seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan

Yang harus kita tanamkan dalam diri kita bahwa ALLAH Maha Melihat dan Maha Tahu apa yang kita rencanakan dan apa yang sedang kita kerjakan.

Kalau kita ingin menjadi seorang ‘kuli’ IT, yang kata orang-orang lagi banyak dicari oleh perusahaan-perusahaan IT, kita –baik yang belum lulus maupun fresh graduate- harus punya prinsip waktu nyari kerja. Walau kita punya prinsip tapi jangan terlalu tinggi prinsip kita.. yah intinya kita ga usah terlalu jual mahal –walau memang kuliah itu mahal :p – , tapi pun kita jangan rendah diri.. Pun klo kita udah keterima kerja neh –walau outsourching sekalipun- kita harus tunjukin klo kita emang ahli dalam bidang tertentu. Tapi jangan ‘sok-sokan’ apalagi sok pahlawan. Mentang-mentang kita bisa nge-hack waktu di kampus lantas kita tunjukin tuh keahlian nge-hack kita di depan manager kita. Klo kasus begini mah, seminggu juga bakal dipecat deh :D .. nah yang ga kalap penting adalah tunjukin bahwa kita adalah seorang yang pembelajar. Orang bakal senang tuh klo kita giat cari tau yaki kita mang ga tau. Tapi jangan segala-gala ditanya. Ntar orang mikirnya kita orang ‘Oon’ , dikit-dikit nanya.. dikit-dikit minta tolong.. dikit-dikit ngeluh.. kalo kasus ini seh kita dipanggil ke ruang manager trus di kasi surat yang isinya “silahkan coba di kantor lain” he.. he.. he..

Menurut pengalaman orang seh, cari kerja itu gampang-gampang susah.. tapi klo lom dicoba mana tau kita rasanya.. ya ga?? Sebagian yang lain berpendapat lebih baik ‘jualan’ daripada nyari kerja.. klo aku she harus nyoba dua-duanya.. biar tau apa rasanya nyari kerja dan apa rasanya ‘jualan’ yang penting kuliah harus beres bulan januari taon depan.. semangat-semangat….

Bandung, 12 April 2008. 20.58

Rindu…

Perasaan ini akan selalu menghinggapi diri yang merasakan indahnya masa lalu. Saat aku, kau dan kita semua mengingat indahnya permainan dikala kecil, maka akan tumbuh rasa ingin menghadirkan masa itu kembali. Saat kau bersama keluarga yang kau cintai, saat kau bersama kawan seperjuangan melewati susah senangnya hidup. Saat kau berada pada masa yang kau sendiri tak ingin meninggalkan masa itu. Masa-masa yang membuat kesan dan rasa dalam hidup.

 

Ternyata bukan aku dan kau saja yang merasakan hal itu. Dalam sebuah kisah Khalifah ke-2 Umar bin Khattab ra. pun pernah merasakan hal itu. Pada suatu saat ia rindu sekali berkumpul dengan para sahabat dan rindu pada saat-saat bersama Rasulullah saw. dan ketika musim haji tiba, ia berjumpa dengan para sahabatnya yang sedang berhaji pula. Namun hanya sebentar, lalu Umar menahan mereka untuk bermalam di rumahnya untuk reuni karena rasa rindu yang luar biasa di hatinya. Tapi apa kata Bilal, “wahai amirul mukminin, saat ini tidak sama dengan saat dimana kita selalu bersama dengan Rasulullah. Kau telah menugaskanku untuk memimpin sebuah daerah, dan tanggung jawabku terhadap umatku. aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan mereka.”

 

Subhanallah.. bukan tiada guna kita merindukan masa lalu. Tapi berlarut-larut dalam keindahan masa lalu juga tak baik adanya. Sejarah itu hadir bukan karena tidak ada manfaatnya, tapi sungguh banyak manfaatnya. Ia hadir sebagai “spion” yang memberi pengalaman dan semangat. Jika kau pernah bergelimang dosa, maka itulah pengalaman dan jika kau pernah menjadi orang yang taat maka itulah penyemangat. Orang pernah berkata –entah benar atau tidaknya- “Hidup itu seperti roda, pada masanya ia akan kembali pada posisi yang sama”. Memang sejarah tak akan bisa kita raih, tapi mungkin terulang –tak sama persis-. Dahulu, Islam jaya hingga pelosok negeri, namun sekarang Islam “terpuruk”. Tapi yakinkan kita Islam akan kembali Jaya.. jawabnya “YAKIN, InsyaALLAH” itulah makna roda kehidupan. Siapapun rindu kejayaan Islam. Kekuatan tanpa tanding, Kemakmuran merata, Ilmu yang luas, Pemimpin yang adil. Aku yakin –InsyaALLAH- semua itu akan kembali tapi bukan tanpa usaha dan berdiam. Kita harus memulainya sekarang.

Namanya juga Manusia

Belakang ini aku sering menemui atau bahkan menjadi tempat curhat orang-orang yang pengen keluar dari jamaah. Aku juga ga ngerti kenapa mereka ingin keluar. Yang bagiku keluar dari jamaah ini berarti keluar dari sebuah tempat yang sejuk dan nyaman lagi indah..

“akh, kayaknya ana ga cocok dengan jamaah ini. Ana masih sering berbuat hal yang sia-sia.. ana dijamaah ini hanya menjadi penonton. Ana dijamaah ini hanya ngerepotin…” mungkin itu adalah kalimat yang tercetus dari seorang ikhwah. Yang menjadi pertanyaan ku, “lantas klo udah keluar dari jamaah ini, ga Liqo lagi antm mo kemana?”. Seandainya aku bisa menynggah pertanyaan itu maka akan aku katakan “klo didalam jamaah antm sering melakukan hal yang sia-sia apalagi keluar dari jamaah? Klo antm sekarang jadi penonton, lantas klo keluar dari jamaah antm jadi apa?” aku merasa, dalam jamaah inilah aku terjaga, di jamaah inilah aku merasakan kenyamanan dalam hidup, jamaah inilah yang menjadi tempat aku memancangkan nilai-nilai Islam. Jamaah inilah yang menjadi mimpiku dikemudian hari dimana dari jamaah inilah nilai Islam tegak di bumi ALLAH. Aku pun sempat berfikir untuk keluar karena terlalu banyak gesekan dan terlalu banyak kekecewaan yang aku dapati. Tapi aku berfikir kembali, apa yang aku dapat jika aku keluar darinya. Justru aku merasa jauh banyak kehilangan yang aku dapati.

Aku berkaca pada orang-orang yang telah postif tidak berkecimpung dalam jamaah ini. Bukan perubahan yang baik yang kau lihat tapi justru suatu yang jauh dari idealisme awal yang aku lihat. Dan itu tidak sedikit dan tidak semua demikian.

Aku sadari saat aku hidup ditengah manusia, maka aku tidak hanya mengharapkan orang lain untuk, tapi juga aku harus memahami orang lain. Aku tidak bisa sepenuhnya berharap kepada manusia karena ia adalah makhluq ALLAH. Saat aku berharap agar orang lain faham tentang diriku dan orang itu tak jua memahami maka yang kudapat adalah kekecewaan, pupus. Itulah yang aku hidari, sebisanya aku tak menaruh harap pada makhluq ALLAH. Karena ALLAH adalah tempat pengharapan.

Dalam sebuah ta’lim rutin pernah dibahas tentang penting berjamaah. Sang ustadz menganalogikan hidup berjamaah itu seperti genteng. Genteng itu, tidak bisa bermanfaat jika ia sendirian.. ia hanya sebuah tanah yang di padatkan yang tak berguna. Jika ia ‘hidup’ bersama dengan yang lain.. maka betapa bermanfaatnya ia. Ia bisa memberi keteduhan bagi orang yang ada di bawahnya. Ia melindungi dari panas dan teriknya matahari. Ia pun melindungi dari hujan nan dingin. Betapa bermanfaatnya ia. ‘hidupnya’ harus rapat, jika renggang bagaimana nasib yang berlindung dibawahnya. SOLID, mungkin ini dapat mewakili. ‘kehidupannya’ begitu indah walau harus saling bergesekan diantara mereka. Sakit mungkin tp “Sayang” lebih mendominasi di ‘hati’ mereka. Itulah analogi sederhana atau bahkan pelajaran berharga dari makhluq ALLAH. Yang memberikan gambaran kepada kita bahwa kehidupan ini harus bersama-sama dengan orang lain, jika tidak maka justru kita tidak menjadi manfaat. Padahal Rosulullah bersabda “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Dan saat kita hidup berjamaah, maka “gesekan” atau bahkan “benturan” itu sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Tapi itu justru menjadi ajang pendewasaan bagi kita. Tempat kita memahami bahwa orang lain juga manusia. Bukan kita saja yang manusia.

“Kau tahu jiwa yang bernyanyi? Ia selalu bermesraan di sepertiga malam. Ia terkadang berbisik. Terkadang merintih. Terkadang merangkai kata. Hanya untuk memenuhi hasrat cintanya. Pada apa yang diajarkan Rasul-Nya.” –hikmaharian-

Kisah masa Lalu..

Ada sekelompok anak muda-ikhwan dan akhwat- yang beafiliasi pada Islam. Mereka adalah mahasiswa yang memiliki semangat Luar Biasa. Semangat da’wah dan jihad yang mungkin tak terbendung oleh keterbatasan.

Dari kejauhan terdengar suara tangis anak dan ibu serta rakyat yang sedang terjajah. Mereka terusir dari tanah kelahiran mereka. Rumah mereka dihancurkan. Orang-orang yang mereka cinta diculik dan dibunuh. Anak-anak mereka yang masih berumur bulanan harus kemabali kehadapan Sang Kholiq. Mendengar demikian, tergeraklah sekelompok anak muda itu untuk untuk memberikan dukungan moral untuk saudaranya yang tertindas. Setidaknya mereka berniat untuk menyadarkan –menginfokan kepada- saudara-saudara se-kampus mereka untuk melihat kondisi saudara mereka yang terjajah dan teraniaya serta terdzolimi.

Mulai dengan membuat pin bergambar bendera Palestina. Artikel-artikel yang diambil dari alamat www.infopalestina.com. Gambar-gambar yang memberi pesan kesengsaraan rakyat Palestina yang sedang terjajah. Hingga membuat mading khusus berita tentang Palestina. Dari kamar kos yang kecil dan sempit, mereka bergerak. Mereka tidak peduli dengan cemoohan orang yang berkata “yang di Indonesia aja sengasara, koq ngurusin negara orang..” itulah kekuatan iman dan ukhuwah yang terpatri dalam diri seorang yang beriman. Kecintaan saudara seiman melebihi cinta terhadap saudara sedarah.

Tapi, dimana anak muda itu sekarang? Anak muda yang mengorbankan uang saku mereka untuk membantu saudaranya. Anak muda yang semangatnya melebihi kemampuannya. Anak muda yang tak goyah pendiriannya karena sebuah cemooh orang yang tak mengerti hakikat ukhuwah. DIMANA???

Dilain waktu disebuah acara bertajuk kepemudaan, diputarlah video yang membuat air mata ini mengalir tak terasa. Video yang membuat hati ini tergerak untuk bergabung bersama mereka yang sedang tertindas walau diri ini masih tak kuasa. Video yang menyadarkan diri ini bahwa ada saudara kita yang sedang terluka. Tapi pemutaran video itu semakin jarang dan bahkan hilang.

Aku rindu pada pemuda-pemuda itu.. aku rindu masa-masa itu.. aku rindu dengan semangat tanpa batas..

Buat saudaraku yang ada di Palestina.. aku hanya bisa berdoa kepada ALLAH untuk mu..

Bersabarlah wahai saudaraku… ALLAH tak pernah mengingkari janji-NYA

-Yang Merindukan KEJAYAAN ISLAM-

Lelaki dan Sejarah

Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap lelaki, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya?

Sejarah, pada mulanya, menggunakan deret ukur waktu. Disini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah : Kita semua adalah sejarah. Tak ada yang lepas dari padanya.

Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada suatu tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi kemanakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah engkau menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Dan siapakan tetes-tetes air yang menjadi gelombang itu?

Riak-riak itu adalah tetes-tetes yang menyatu dalam laut sejarah karena waktu. Dan gelombang itu, itulah lelaki-lelaki sejarah. Tak semua air menjadi gelombang, sekalipun semuanya punya peluang yang sama untuk menjadi gelombang. Lalu apakah yang membuat tetes-tetes air itu menjadi gelombang?

Angin !

Inilah yang menanamkan ‘kehendak’ pada tetes-tetes air itu untuk menjadi gelombang. Ketika ‘sentuhan’ angina itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat. Angin itu adalah iman. Iman, terserah ia diberikan kepada kebenaran atau kebathilan, adalah rahasia di balik semua keajaiban sejarah. Iblislah yang menanamkan iman kepada kebhatilan dalam diri manusia, hingga ia berkehendak menciptakan daulatul bathil. Dan rasul-rasul, sepanjang sejarah, adalah utusan Allah yang bertugas menanamkan iman kepada kebenran dalam diri manusia, hingga lahirlah daripadanya daulatul haq.

Semua manusia besar yang pernah hadir dalam sejarah, kata Sayyid Quthb, selalu mempunyai kelebihan yang amat menonjol pada kekuatan jiwa. Rahasia ini pula yang kita tangkap dari strategi Rasulullah saw. Ketika beliau ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi manusia. Apa yang paling menonjol pada sahabat-sahabat Rasulullah saw. bukan terutama kecerdasan, sekalipun itu ada, tapi adalah iman.

Kata iman, dalam pembahasan Al-Qur’an, selalu membawa nuansa ‘gerak’ yang amat dalam. Iman adalah landasan abadi di atas mana akal melaju menaiki tangga menuju angkasa. Iman adalah rahasia darimana raga memperoleh kekuatan yang tidak diketahuinya. Kekuatan gerak pribadi bermula ketika iman merasuki jiwa, menggelorai hati, lalu bergemuruh pada setiap sesi instrument kepribadian kita. Bila keadaan yang sama merasuk ke dalam jiwa dan hati sebuah masyarakat secara kolektif, engkau niscaya akan menemukan gelombang dahsyat dalam sejarah.

Setiap kita, para lelaki, selalu akan memperoleh tempat dalam sejarah, bila kita mau membentangkan benang merah yang menjalin gemuruh kehendak dalam jiwa dengan gemuruh gerak ombang dalam laut sejarah.

Maka saat-saat ‘pasang’ dalam sejarah Islam, kata Syekh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Dan saat-saat ‘surut’, sebaliknya, selalu bergerak sejajar dengan kelemahan iman.

source : Arsitek Peradaban-hal 72, Anis Matta, Fitrah Robbani

Newer entries »